Jumat, 26 Oktober 2012




Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) menggelar Apkomindo Summit 2010 yang berlangsung Senin-Selasa (19-20/4) di Jakarta. Acara ini secara resmi dibuka oleh Mahendra Siregar, Wakil Menteri Perdagangan RI. Acara juga dibuka oleh sambutan dari Suhanda Wijaya, Ketua Umum Apkomindo dan Anindya Bakrie, Wakil Ketua Umum Tetap Telematika Kadin Indonesia.
Suhanda mengatakan, Apkomindo Summit 2010 diadakan untuk menjembatani komunikasi anggotanya, pengusaha (principal, distributor, dan supplier) dan pemerintah tentang prioritas dan arah kebijakan pemerintah terkait ICT di Indonesia. “Acara ini juga diharapkan dapat menjadi solusi dan ajang berbagi mengenai hambatan dan kendala yang selama ini dihadapi pengusaha dan pemerintah,” ujarnya. Ini merupakan realisasi peran Apkomindo sebagai mitra strategis pemerintah dalam perumusan rencana dan peraturan khususnya di bidang perdagangan dan industri ICT.
Menurut catatan Apkomindo, di Indonesia sejauh ini tingkat penetrasi komputer (PC dan notebook) baru 4% dari total populasi Indonesia. Sedangkan koneksi internet masih di bawah 10%. “Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, angka ini jauh sekali di bawah,” kata Suhanda. Angka yang terbilang kecil ini tentunya dapat dilihat sebagai peluang bagi tumbuh dan berkembangnya perdagangan dan industri komputer di Indonesia. Karena itu, sinergi pemerintah, pengusaha, dan Apkomindo dalam segala aspek sangat diperlukan.
Hingga tahun lalu, total penjualan komputer di Indonesia mencapai 2,8 juta unit, tumbuh sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini Apkomindo menargetkan penjualan sebanyak 3,6 juta unit atau naik sekitar 35%. Target ini dinilainya realistis karena hingga kuartal pertama 2010, sekitar 800 ribuan unit komputer sudah terjual. Padahal, di kuartal yang sama di tahun sebelumnya hanya tercatat 300 ribuan unit meski di kuartal ketiga meningkat tajam karena krisis global berlalu.
Untuk mengembangkan pasar dalam negeri, menurut Suhanda, ada dua kendala utama. Pertama, daya beli masyarakat (effortability) yang relatif masih rendah. Untuk meningkatkan penetrasi pasarnya, harga komputer harus lebih terjangkau. Sebab, harga komputer relatif mahal bagi masyarakat Indonesia, meski belakangn sudah menunjukkan tren menurun.. Kedua, koneksi internet yang masih terbatas.
“Dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk menghadapi masalah ini,” ujar Suhanda, sambil mencontohkan sebuah kabupaten yang memberikan akses internet gratis di jalan-jalan protokoler dan pusat keramaian. Terbukti tingkat penetrasinya dan kesadaran warga memanfaatkan internet meningkat.
Dalam Apkomindo Summit 2010 ini juga, Suhanda berharap tiga isu penting dapat disepakati. Pertama, tentang keharusan pembayaran transaksi menggunakan rupiah. Menurutnya, ketetapan ini akan membuat harga komputer dalam negeri relatif lebih stabil sehingga pasar bisa berkembang. “Kalau terpatok pada US$, pembeli akan menahan diri ketika rupiah melemah. Pasar jadi tidak stabil,” katanya. Hingga kini Acer sudah berkomitmen untuk menerapkan transaksi menggunakan Rupiah ini.
Kedua, standarisasi produk melalui SNI (Standar Nasional Industri). Dengan penerapan standarisasi ini, diharapkan semua komputer yang beredar di dalam negeri terstandar sehingga masyarakat terlindung dari produk-produk berkualitas buruk. Ketiga, labeling berbahasa Indonesia untuk memberi kemudahan dalam mengoperasikan komputer.
Sementara itu, Mahendra Siregar menambahkan, memperluas koneksi internet merupakan kunci meningkatkan tingkat penetrasi komputer di Indonesia. Dengan demikian, pasar komputer di sini nanti bisa bekembang. Ketika pasar berkembang baik, dan memroduksi komputer di dalam negeri menjadi mungkin. “Produksi dalam negeri nantinya bisa menjadi basis ekspor,” ujarnya. Jelas ini memberikan multiply effect bagi Indonesia.
Acara yang baru pertama kali digelar ini juga diramaikan oleh pameran produk Acer, AMD, Asus, Axioo, BII, HP, Intel, Lenovo, Microsoft, MIT, Telkomsel, dan Zyrex.
SHARE SOCIAL MEDIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar